Kita sudah sering denger orang ngomong
"Belanjalah ke pasar tradisional!"
"Bantulah rakyat kecil!"
"Tingkatkan kesejahteraan mereka!"
"Bantulah perekonomian pribumi!"
"Janganlah nawar, kalau perlu kasih lebih!"
Tapi pernahkah sekali saja para pedagang pasar tradisional itu mikir?
- Janjinya 15 ribu, saya kasih 20 eh nggak dikembaliin, pura2 lupa aja gitu. Saya masih mending, lah emak saya 50 ribu ga dibalikin. Kayaknya kita punya pohon duit aja gitu.
- Benda yang seharga 10 ribu di super market di jualnya 10 kali lipet ke saya. Apa maksudnya coba? Emang kita kita nggak punya 'common sense' terhadap harga barang?
- Kalo belanja nggak jadi karena ga ada yg cocok eh pedagangnya jutek "Emang gue pembantu loe!"
- Numpang nanya aja ga boleh "Emang gue satpam!"
- Berdiri sebentar di depan lapaknya (buat liat pedagang lain di sebrang) aja pedagangnya marah "Minggir! Ini jalanan nenek moyang loe!"
-Dan yang terparah adalah pelecehan seksual.
Tidak semua pedagang seperti itu? Saya tidak bicara data, saya bicara apa yang saya alami. Tidak diperlukan data untuk sebuah trauma.
Tambahan:
Emak saya nggak percaya bertransaksi emas sama pribumi, takut dibohongi katanya.
Pertanyaan:
Apakah artikel ini membuat para pedagang marah atau introspeksi diri? Jika marah berarti akan selamanya saya tidak percaya, jika introspeksi mungkin saya akan mencoba lain kali.
~
Ijou desu.
Sebenernya cuma copy-an dari postingan saya di Facebook. Temen2 saya tau saya ini hobi bikin postinga gaje ga penting, tapi itulah fun-nya. Facebook emang banyak orang lebay tapi nggak kaku, rata2 apa adanya.
Wednesday, September 28, 2016
Anak Ayam
Jika anda mendengar pendapat/ide baru yang tidak begitu klop dengan
anda lalu anda marah, pastikan kemarahan itu bukan kemarahan 'denial'.
Saya
pernah mengalami apa itu 'kemarahan denial' beberapa tahun lalu,
rasanya seperti anak ayam yang mematuk2 kaki gajah, berapa ribu anak
ayam yang ikut serta pun tidak membuat gajah itu terluka sedikitpun,
gajah itu malah melihat mereka sebagai sesuatu yang imut.
'Kemarahan
denial' itu seperti; anda mengeluarkan semua pembelaan2 kecil untuk
menghibur diri barang 3 - 4 bulan, setelah itu anda masih saja
memikirkan ide/pendapat yang anda tolak itu dan terus mencari pembenaran
dengan pembelaan2 kecil yang berbeda di setiap kesempatan.
Lalu
di mana posisi saya saat ini setelah bertahun berlalu? Hanya bertopang
dagu menonton para anak2 ayam pendatang baru yang berjuang dengan
lincahnya, akhirnya saya pun melihat anak2 ayam itu sebagai sesuatu yang
imut.
Jadi intinya, sulit untuk menetapkan di mana
kita sebenarnya jika kita mempertahankannya dengan esmosi (kebiasaan
ngomong 'esmosi' mulu ckckck).
Istilah 'denial dalam psikologi' itu bukan bikinan saya tapi Sigmund Freud.
Ya
mungkin itulah sebabnya kenapa 'golongan ini' melarang untuk berdebat.
Mulai saat itu saya bisa berjuang berdebat tentang apapun kecuali soal golongan
ini. Tapi tetep klo ada waktu saya suka ngikutin sambil santai makan
popcorn, siapa tau ada keajaiban.
Sumpah, susah
menangnya. Biarpun kita teriak 'itu tidak benar!' sampe berdarah2, tapi
klo golongan itu nyatanya emang selalu penuh dengan kemeriahan begitu, otomatis lawan udah menang.~
Ijou.
Monday, September 26, 2016
Efek Dunning Kruger
Bicara tentang "Efek Dunning Kruger"; yaitu dimana seseorang merasa
dirinya pintar tapi nyatanya tidak.
Atau mungkin teori yang saya sampaikan ini adalah teori orang rata2, karena orang genius itu tidak pernah punya waktu untuk merasa genius.
Jika ada orang yang menghumbar kegeniusannya, orang itu patut di curigai, bahkan jika orang itu hanya membahasnya, seperti saya.
Ijou desu.
Dengan kata lain; orang
pintar merasa bodoh karena dia sering melihat orang yang lebih bodoh
darinya, sedangkan orang bodoh merasa pintar karena karena dia tidak
bisa merasakan kebodohannya.
Tentu ini bukan tanpa kontroversi.
Teori ini cukup membingungkan (setidaknya ini versi saya), kita ambil contoh pengkotakan dari sistem IQ.
1. Idiot
Tentu ini bukan tanpa kontroversi.
Teori ini cukup membingungkan (setidaknya ini versi saya), kita ambil contoh pengkotakan dari sistem IQ.
1. Idiot
2. Imbesil
3. Bodoh
4. Rata2
5. Diatas rata2
6. High intelligence
7. Genius
Menurut
test saya cuma ada di 5 saja (tapi angkanya hampir nyerempet ke 6 loh),
itu artinya di atas saya ada para 'high' dan 'genius', Sekarang anggap
aja kita ada di satu ruangan dan saya ada bersama para kelompok 1, 2, 3 ,
dan 4 tentu saja saya merasa paling pintar di sana. Tapi kalo saya
ada bersama para 5 & 6, tentu saya paling bodoh disana.
Atau mungkin teori yang saya sampaikan ini adalah teori orang rata2, karena orang genius itu tidak pernah punya waktu untuk merasa genius.
Jika ada orang yang menghumbar kegeniusannya, orang itu patut di curigai, bahkan jika orang itu hanya membahasnya, seperti saya.
Ijou desu.
Sunday, September 25, 2016
Saya dan Game Fatal Frame 3

Fatal Frame 3 mengingatkan gw sama kisah nyata, tapi diceritain pun orang juga nggak bakal percaya.
Tapi kebetulan hari ini lagi boring, jadi mari kita cerita saja.
Jangan khawatir, gw ga akan menampakan yg serem2.
Buat
mereka masalah selesai tapi ternyata masalahnya pindah ke gw, selama
seminggu penuh gw mimpi mengerikan yang sama dan berulang, baru tidur 5
menit aja udah langsung 'di serang' lagi, kalo mau dibayangin mungkin
sama seperti si Rei 'Fatal Frame 3' yg baru balik tidur. Alhasil setiap
30 menit gw harus terjaga dari tidur yang terpaksa, tapi bagaimanapun
walau gw sadar udah di dunia nyata mereka masih aja menampakan diri (itu
ada istilahnya di dunia psikologi tapi cuma teori tanpa experimen).
Untungnya,
entah apa sebabnya, seminggu kemudian 'dia (salah satu karakter utama
di mimpi gw)' tiba2 permisi pulang ke RS, dan fenomena 'fatal frame 3'
itu pun hilang tanpa bekas dan gw bisa tidur dengan normal.
Hal
seperti ini juga terjadi waktu gw kecil tapi cuma berlangsung 3 hari
berturut2 dan dalam seharinya cuma sekali nggak berulang tapi lumayan
bikin stress.
Bedanya kalo di 'Fatal Frame 3' dunia
mimpi dan nyata beda lokasi, kalo gw berlokasi di tempat yang sama yaitu
rumah gw, jadi waktu terjaga mereka bisa terlihat di tempat yang sama.
Ijou desu
Sunday, September 18, 2016
DEBAT
Saya menerapkan gambar di atas pada hobi saya yaitu debat.
"Cognitively costly" ya itu dia, kenapa gw bilang debat memakan banyak energi (energi otak, bukan mulut atau papan ketik). Klo bisa gw gambarkan itu seperti sebuah 'jaring yg luas dan berlistrik'.
"Objective", ini yg paling langka ditemuin klo lawan gw org lokal, mereka itu hobi sama banget sama 'subjective'. Klo bisa gw gambarkan si 'objective' ini seperti 'timbangan pengadilan'. Objective ini paling penting tapi agak menyakitkan, makanya kadang kita bisa tertipu sendiri. Untuk melatih diri soal ini, para debaters biasa melakukan 'tukar posisi'.
"Causation",
klo di bahasa gw ini seperti lempar lembing, anggap aja 1 terdekat dan
10 terjauh. Cukup menyebalkan ngeliat orang lain teriak2 sampe populer
karna mereka bisa sampe angka 2 atau 3 dimana kita bisa sampe angka 6
atau 7 (tapi tidak populer). Bagaimana dengan 10? Mereka terlalu cerdas
dan biasanya bodo amat dengan segala sesuatu kecuali dunia mereka,
sekalinya tampil mereka biasanya bawa penemuan baru yg menarik.
"Emotions",
ini yg bikin gw dibilang ga punya perasaan. Masalahnya, waktu bisa di
ringkas sedemikian rupa tanpa 'hiasan2 penghakiman' itu. Di saat orang
berkutat di A sampe Z dan ternyata inti masalahnya ada di X maka X-lah
yg harus di fokus sampe tuntas sampe akar2nya.
Lepas dari semua itu kadang2 gw jedotin jidat ke tembok juga (tanpa kata2) karena ternyata level pemikiran lawan lebih minus dari pengharapan. Tapi tentu saja setelah jedotin jidat, gw balik lagi ke posisi normal seperti tidak terjadi apa2 (sambil merombak ulang strategi).
Satu
lagi, jika kita punya lawan yg hobi dengan kata2 penghakiman yg fancy,
kita bisa gunakan waktu luang itu buat me-recharge energi.
Tentu
saja seperti biasa semua bisa di perdebatkan, saya bukan Sherlock,
bahkan Sherlock aja kadang harus pake 'patch' biar bisa mikir jernih.
Secara Umum di Indonesia (sejauh pengetahuan saya)
Secara Umum di Indonesia (sejauh pengetahuan saya)
Kalo di luar negri (terutama negri2 maju) komentar yg di kotak bawah itu dianggap sebagai troll (orang ngerjain cuma buat bikin rame doank), bahkan untuk troll pun udah ga laku lagi.
Andainya kalo yg dibawah itu asli bukan troll, itu artinya kita udah ketinggalan jauh dlm hal skill debat (untuk masyarakat umum, bukan mereka yg emang berprofesi untuk debat). Bukan ketinggalan saja, bahkan ditinggal sama sekali, itu artinya kita tanpa harapan karena ditinggal oleh para pengajar.
[sebenernya gw juga suka ngetroll, trus di ujung kalimat di tambah "3.. 2.. 1..." itu countdown buat ngeliat seberapa cepat mereka marah. Tapi troll itu juga harus tau tempat, nggak mungkin 'kan kita ngetroll di sini]
Saya nggak bilang semua orang Indonesia, karena ketemu beberapa yang luar biasa bagus, mulai dari tata bahasanya sampai strateginya.
Skill Ice Skating yang Berguna
Suatu hari saya terpeleset (tapi nggak jatuh, kebetulan agak berbakat di ice skating jadi tidak mudah terpeleset) di suatu tempat, terus saya bilang ke yang ada di situ "mungkin lain kali jangan buang air yang berminyak disitu."
Beberapa hari kemudian saya hampir terpeleset lagi dan bilang "tadi gw kepeleset donk....! Mantep 'kan?"
Dan tentu saja itu terjadi berulang sampe terbiasa.
Pada suatu hari orang yang ada disitu terpeleset dan jatuh tentu saja itu bahan tertawaan yang lucu, tapi ternyata saya salah, dia menatap dengan penuh kesedihan sambil bilang "Kejam! Sungguh tidak berperasaan! Kau bukan manusia!"
Dan saya pun memesan tiket untuk pergi ke planet jupiter untuk melihat-lihat apa masih ada apartemen yang tersisa di sana.
Ijou desu.
Beberapa hari kemudian saya hampir terpeleset lagi dan bilang "tadi gw kepeleset donk....! Mantep 'kan?"
Dan tentu saja itu terjadi berulang sampe terbiasa.
Pada suatu hari orang yang ada disitu terpeleset dan jatuh tentu saja itu bahan tertawaan yang lucu, tapi ternyata saya salah, dia menatap dengan penuh kesedihan sambil bilang "Kejam! Sungguh tidak berperasaan! Kau bukan manusia!"
Dan saya pun memesan tiket untuk pergi ke planet jupiter untuk melihat-lihat apa masih ada apartemen yang tersisa di sana.
Ijou desu.
Saturday, September 10, 2016
Cara saya mengukur kemampuan sendiri
Cara
saya mengukur kemampuan diri sendiri? Mudah saja, saya lakukan metode
ini sejak jaman sekolah, bahan2 yg di perlukan adalah PARA MUSUH dan
pancingan ribut.
Beruntunglah saya punya banyak musuh dimanapun dan kapanpun saya berada.
Saya menamakan metode ini dengan;
I don't take compliments, I steal compliments
Contoh;
Person 1 ; You're smart.
Me ; Ok, that's suspicious.
Person
2; You may be a bit smart in few things, but you're stupid, stupid,
stupid, stupid, stupid, stupid, stupid, stupid, stupid, stupid, stupid,
stupid, stupid, stupid, stupid, stupid, stupid, retarded, idiot, bad,
bad, bad, bad, bad, bad, bad, bad, bad, bad, bad and the worst in a lot
of things.
Me ; Me? Smart? Thanks!
Ijou desu.
Kita kembali dalam acara "Curhat Bersama"
Orang bilang jangan bagi kesulitan kita ke orang lain karena orang lain masing2 juga punya kesulitan sendiri.
Tapi anehnya disaat kita bertingkah aneh mereka selalu punya waktu untuk kita, waktu untuk berlagak jadi orang baik dengan nasehat2 tidak berguna dan membosankan.
Disaat kita tidak menerima nasihat standar mereka, mereka akan mencap kita dengan resmi sebagai 'berhati keras'.
Tapi anehnya disaat kita bertingkah aneh mereka selalu punya waktu untuk kita, waktu untuk berlagak jadi orang baik dengan nasehat2 tidak berguna dan membosankan.
Disaat kita tidak menerima nasihat standar mereka, mereka akan mencap kita dengan resmi sebagai 'berhati keras'.
Mencap itu adalah kebiasaan guru yang tidak bisa mengajar lalu menyalahkan muridnya.
Oh, saya lupa bahwa murid yang lebih tajam dari gurunya itu tidak pernah ada di dunia ini, itu keajaiban dunia.
Lalu misteri apa yang tersimpan disaat junior merasa bosan dengan semua dikte seniornya?
Dan
bukankah kita baru saja mendengar keluhan mereka yang telah mencap kita
dengan 'hati keras', apa pointnya dari pengecapan itu?
Trus posisi kita dimana dari 'janganlah berbagi kesulitan kita dengan orang lain'?
Dan anda baru saja mendengar keluhan saya soal yang di atas itu.
Intinya, nothing, semua hanya curhatan, dan curhat itu kadang2 baik untuk kesehatan jiwa.
Ya,
saya pecinta drama di medsos karena salah satu hobi saya adalah
meng-observasi tingkah manusia (observasi itu artinya memperhatikan
tanpa menghakimi/minimal komentar langsung).
Ijou.
Ijou.
Anak anda akan jadi yang berikutnya
Secara umum lagu ini seperti bicara tentang perang. Tapi jika di terapkan keseharian interprestasinya itu seperti; orang tua yang sudah menyiapkan cetakan sempurna buat anaknya tapi mereka lupa anak2 itu bukan adonan kue, itu membuat perkembangan sampe dewasa jadi nggak berbentuk. Karena kepribadian yg tak berbentuk itu akhirnya saat itu anak jadi orang tua dia seperti dapet pelajaran bahwa anaknya harus dapet cetakan sempurna. Dan itu terus berputar dari generasi ke generasi.
Cara memutusnya mungkin dengan menjadi ortu yg fleksible kali, ya? Karena anak2 itu hidup, entah kemana mereka akan bergerak itu tidak seperti perkembangan adonan kue.
Mungkin.
Sisanya difleksiblekan ke anda, ini cuma interprestasi.
Ijou.
Rumah Bekas Pembunuhan
Sudah saya resarch kenapa rumah bekas pembunuhan/bunuh diri tidak laku bahkan walau harganya diturunkan, ternyata katanya terlalu beraura negatif atau horror. Kalau di Indonesia mungkin masih dimaklumi karena banyak penduduknya yang masih berpikiran tradisional, tapi kenapa di negara maju yang rata2 masyarakatnya atheis/skeptis/naturalis masih begitu juga? Harga murah itu 'kan suatu keuntungan? Tapi itu bukan urusan saya.
Untuk saya sendiri ada switch tersendiri; saya hobi debat yang artinya saya harus logic se-logic2nya dengan segala macam research2-nya bahkan emosipun dihilangkan sama sekali, di sisi lain saya juga makhluk horror (konyol emang), percaya atau tidak soal indigo tapi saya punya sedikit bakat di situ, saya tidak tau letak energi negatif itu dimana tapi saat kita berada di posisi mereka kita bisa merasakannya, itu biasa terjadi di RS atau saat tetangga dekat ada yang meninggal.
Jadi intinya, jika saya membeli tempat tinggal bekas pembunuhan/bunuh diri itu sama saja seperti kita tinggal di rumah biasa dengan cicak, semut, atau laba2 yang menyertai kita tinggal disana, bahkan dikamar saya dulu pernah ada ular :P
Yang bikin menakutkan itu ya karena kita tidak tau posisi mereka, sama kayak binatang melata yang tiba2 menghilang sebelum kita bunuh, itu bikin kita semalaman tidak tidur.
Semut dkk itu kita ibaratkan 'spirit' saja, mereka itu santai tidak mengganggu, sedangkan binatang melata kita sebut dengan 'evil spirit', agak susah emang berurusan sama si evil itu, energi/sugestinya sangat kuat, kadang perlu prosesi tersendiri menurut kepercayaan masing untuk meredamnya.
Apa horor selalu exclusive milik rumah bekas pembunuhan/bunuh diri? Bicara soal itu ada satu area bekas Sekolah TK (sekarang udah jadi rumah ini) energi negarifnya luar biasa walau saya nggak masuk kesana cuma lewat doank, ada apa gerangan? Bekas pembunuhan? Saya rasa tidak, itu menurut kesaksian nenek saya yang sudah puluhan tahun tinggal di kawasan itu. Paling katanya sebelum ada TK (yg dibangun sekitar tahun 1970-an) emang udah ada rumah tanpa penghuni (di perkirakan sejak jaman Belanda), pemiliknya ada tapi tinggal di daerah Kota. Pada tahun 1960-an emang ada kasus pembantaian di belakang rumah itu yang merupakan rawa, tapi pembantaian biawak besar bukan manusia. Kenapa saya sebut kasus? Karena hari itu mudah di ingat oleh masyarakat sekitar, daging biawak besar itu di bagi-bagi ke mereka untuk dijadikan obat.
Kisah diatas itu pengalaman saya sendiri lalu saya bertanya pada emak saya yang ibunya (nenek saya) orang asli sana, mereka tau betul perkembangan daerah itu.
Saya menyimpan data beberapa spot angker yang tidak punya sejarah pembunuhan atau bunuh diri sama sekali, data itu berasal dari tahun 60-an, jadi bukan saya yang mengalaminya, hanya kesaksian penduduk lokal. Nanti kapan2 saya share (walau tidak begitu penting karena sebagian dari spot2 itu sekarang tidak angker lagi).
Sekarang kita ke logic saja, lihatlah para dokter, perawat, polisi/penyidik, penjaga kamar mayat, perias mayat, tim SAR atau mereka yang rumahnya dekat kuburan. Kehidupannya biasa aja 'kan?
Dari drama Jepang Ie Uru Onna atau bahasa internasionalnya 'Your
House is my Business' yang menceritakan tentang para broker property,
terutama karakter utama wanitanya yang gila jual rumah, apapun
masalahnya rumah yang dia akan dia jual pokoknya harus terjual, bahkan
rumah bekas pembunuhan sekaligus bunuh diri. Dan si wanita itu sendiri
bertempat tinggal di rumah mewah bekas pembantaian, belum tau akhirnya
seperti apa karena saat ini masih tayang.
Berjuanglah wahai para broker property Indonesia!
Ijou desu.
Untuk saya sendiri ada switch tersendiri; saya hobi debat yang artinya saya harus logic se-logic2nya dengan segala macam research2-nya bahkan emosipun dihilangkan sama sekali, di sisi lain saya juga makhluk horror (konyol emang), percaya atau tidak soal indigo tapi saya punya sedikit bakat di situ, saya tidak tau letak energi negatif itu dimana tapi saat kita berada di posisi mereka kita bisa merasakannya, itu biasa terjadi di RS atau saat tetangga dekat ada yang meninggal.
Jadi intinya, jika saya membeli tempat tinggal bekas pembunuhan/bunuh diri itu sama saja seperti kita tinggal di rumah biasa dengan cicak, semut, atau laba2 yang menyertai kita tinggal disana, bahkan dikamar saya dulu pernah ada ular :P
Yang bikin menakutkan itu ya karena kita tidak tau posisi mereka, sama kayak binatang melata yang tiba2 menghilang sebelum kita bunuh, itu bikin kita semalaman tidak tidur.
Semut dkk itu kita ibaratkan 'spirit' saja, mereka itu santai tidak mengganggu, sedangkan binatang melata kita sebut dengan 'evil spirit', agak susah emang berurusan sama si evil itu, energi/sugestinya sangat kuat, kadang perlu prosesi tersendiri menurut kepercayaan masing untuk meredamnya.
Apa horor selalu exclusive milik rumah bekas pembunuhan/bunuh diri? Bicara soal itu ada satu area bekas Sekolah TK (sekarang udah jadi rumah ini) energi negarifnya luar biasa walau saya nggak masuk kesana cuma lewat doank, ada apa gerangan? Bekas pembunuhan? Saya rasa tidak, itu menurut kesaksian nenek saya yang sudah puluhan tahun tinggal di kawasan itu. Paling katanya sebelum ada TK (yg dibangun sekitar tahun 1970-an) emang udah ada rumah tanpa penghuni (di perkirakan sejak jaman Belanda), pemiliknya ada tapi tinggal di daerah Kota. Pada tahun 1960-an emang ada kasus pembantaian di belakang rumah itu yang merupakan rawa, tapi pembantaian biawak besar bukan manusia. Kenapa saya sebut kasus? Karena hari itu mudah di ingat oleh masyarakat sekitar, daging biawak besar itu di bagi-bagi ke mereka untuk dijadikan obat.
Kisah diatas itu pengalaman saya sendiri lalu saya bertanya pada emak saya yang ibunya (nenek saya) orang asli sana, mereka tau betul perkembangan daerah itu.
Saya menyimpan data beberapa spot angker yang tidak punya sejarah pembunuhan atau bunuh diri sama sekali, data itu berasal dari tahun 60-an, jadi bukan saya yang mengalaminya, hanya kesaksian penduduk lokal. Nanti kapan2 saya share (walau tidak begitu penting karena sebagian dari spot2 itu sekarang tidak angker lagi).
Darimana saya dapat ide untuk bikin postingan seperti ini?
| Drama Jepang - Ie Uru Onna |
Berjuanglah wahai para broker property Indonesia!
Ijou desu.
Subscribe to:
Comments (Atom)



