Jika anda mendengar pendapat/ide baru yang tidak begitu klop dengan
anda lalu anda marah, pastikan kemarahan itu bukan kemarahan 'denial'.
Saya
pernah mengalami apa itu 'kemarahan denial' beberapa tahun lalu,
rasanya seperti anak ayam yang mematuk2 kaki gajah, berapa ribu anak
ayam yang ikut serta pun tidak membuat gajah itu terluka sedikitpun,
gajah itu malah melihat mereka sebagai sesuatu yang imut.
'Kemarahan
denial' itu seperti; anda mengeluarkan semua pembelaan2 kecil untuk
menghibur diri barang 3 - 4 bulan, setelah itu anda masih saja
memikirkan ide/pendapat yang anda tolak itu dan terus mencari pembenaran
dengan pembelaan2 kecil yang berbeda di setiap kesempatan.
Lalu
di mana posisi saya saat ini setelah bertahun berlalu? Hanya bertopang
dagu menonton para anak2 ayam pendatang baru yang berjuang dengan
lincahnya, akhirnya saya pun melihat anak2 ayam itu sebagai sesuatu yang
imut.
Jadi intinya, sulit untuk menetapkan di mana
kita sebenarnya jika kita mempertahankannya dengan esmosi (kebiasaan
ngomong 'esmosi' mulu ckckck).
Istilah 'denial dalam psikologi' itu bukan bikinan saya tapi Sigmund Freud.
Ya
mungkin itulah sebabnya kenapa 'golongan ini' melarang untuk berdebat.
Mulai saat itu saya bisa berjuang berdebat tentang apapun kecuali soal golongan
ini. Tapi tetep klo ada waktu saya suka ngikutin sambil santai makan
popcorn, siapa tau ada keajaiban.
Sumpah, susah
menangnya. Biarpun kita teriak 'itu tidak benar!' sampe berdarah2, tapi
klo golongan itu nyatanya emang selalu penuh dengan kemeriahan begitu, otomatis lawan udah menang.~
Ijou.
No comments:
Post a Comment