Wednesday, September 28, 2016

Anak Ayam

Jika anda mendengar pendapat/ide baru yang tidak begitu klop dengan anda lalu anda marah, pastikan kemarahan itu bukan kemarahan 'denial'.
Saya pernah mengalami apa itu 'kemarahan denial' beberapa tahun lalu, rasanya seperti anak ayam yang mematuk2 kaki gajah, berapa ribu anak ayam yang ikut serta pun tidak membuat gajah itu terluka sedikitpun, gajah itu malah melihat mereka sebagai sesuatu yang imut.

'Kemarahan denial' itu seperti; anda mengeluarkan semua pembelaan2 kecil untuk menghibur diri barang 3 - 4 bulan, setelah itu anda masih saja memikirkan ide/pendapat yang anda tolak itu dan terus mencari pembenaran dengan pembelaan2 kecil yang berbeda di setiap kesempatan.
Lalu di mana posisi saya saat ini setelah bertahun berlalu? Hanya bertopang dagu menonton para anak2 ayam pendatang baru yang berjuang dengan lincahnya, akhirnya saya pun melihat anak2 ayam itu sebagai sesuatu yang imut.
Jadi intinya, sulit untuk menetapkan di mana kita sebenarnya jika kita mempertahankannya dengan esmosi (kebiasaan ngomong 'esmosi' mulu ckckck).

Istilah 'denial dalam psikologi' itu bukan bikinan saya tapi Sigmund Freud.

Ya mungkin itulah sebabnya kenapa 'golongan ini' melarang untuk berdebat. Mulai saat itu saya bisa berjuang berdebat tentang apapun kecuali soal golongan ini. Tapi tetep klo ada waktu saya suka ngikutin sambil santai makan popcorn, siapa tau ada keajaiban.
Sumpah, susah menangnya. Biarpun kita teriak 'itu tidak benar!' sampe berdarah2, tapi klo golongan itu nyatanya emang selalu penuh dengan kemeriahan begitu, otomatis lawan udah menang.

~
Ijou.

No comments:

Post a Comment