Wednesday, September 28, 2016

Kenapa Saya Males Belanja di Pasar Tradisional?

Kita sudah sering denger orang ngomong

"Belanjalah ke pasar tradisional!"
"Bantulah rakyat kecil!"
"Tingkatkan kesejahteraan mereka!"
"Bantulah perekonomian pribumi!"
"Janganlah nawar, kalau perlu kasih lebih!"

Tapi pernahkah sekali saja para pedagang pasar tradisional itu mikir?

- Janjinya 15 ribu, saya kasih 20 eh nggak dikembaliin, pura2 lupa aja gitu. Saya masih mending, lah emak saya 50 ribu ga dibalikin. Kayaknya kita punya pohon duit aja gitu.

- Benda yang seharga 10 ribu di super market di jualnya 10 kali lipet ke saya. Apa maksudnya coba? Emang kita kita nggak punya 'common sense' terhadap harga barang?

- Kalo belanja nggak jadi karena ga ada yg cocok eh pedagangnya jutek "Emang gue pembantu loe!"

- Numpang nanya aja ga boleh "Emang gue satpam!"

- Berdiri sebentar di depan lapaknya (buat liat pedagang lain di sebrang) aja pedagangnya marah "Minggir! Ini jalanan nenek moyang loe!"

-Dan yang terparah adalah pelecehan seksual.

Tidak semua pedagang seperti itu? Saya tidak bicara data, saya bicara apa yang saya alami. Tidak diperlukan data untuk sebuah trauma.


Tambahan:
Emak saya nggak percaya bertransaksi emas sama pribumi, takut dibohongi katanya.

Pertanyaan:
Apakah artikel ini membuat para pedagang marah atau introspeksi diri? Jika marah berarti akan selamanya saya tidak percaya, jika introspeksi mungkin saya akan mencoba lain kali.


~
Ijou desu.

No comments:

Post a Comment