Saturday, September 10, 2016

Rumah Bekas Pembunuhan

Sudah saya resarch kenapa rumah bekas pembunuhan/bunuh diri tidak laku bahkan walau harganya diturunkan, ternyata katanya terlalu beraura negatif atau horror. Kalau di Indonesia mungkin masih dimaklumi karena banyak penduduknya yang masih berpikiran tradisional, tapi kenapa di negara maju yang rata2 masyarakatnya atheis/skeptis/naturalis masih begitu juga? Harga murah itu 'kan suatu keuntungan? Tapi itu bukan urusan saya.

Untuk saya sendiri ada switch tersendiri; saya hobi debat yang artinya saya harus logic se-logic2nya dengan segala macam research2-nya bahkan emosipun dihilangkan sama sekali, di sisi lain saya juga makhluk horror (konyol emang), percaya atau tidak soal indigo tapi saya punya sedikit bakat di situ, saya tidak tau letak energi negatif itu dimana tapi saat kita berada di posisi mereka kita bisa merasakannya, itu biasa terjadi di RS atau saat tetangga dekat ada yang meninggal.

Jadi intinya, jika saya membeli tempat tinggal bekas pembunuhan/bunuh diri itu sama saja seperti kita tinggal di rumah biasa dengan cicak, semut, atau laba2 yang menyertai kita tinggal disana, bahkan dikamar saya dulu pernah ada ular :P

Yang bikin menakutkan itu ya karena kita tidak tau posisi mereka, sama kayak binatang melata yang tiba2 menghilang sebelum kita bunuh, itu bikin kita semalaman tidak tidur.

Semut dkk itu kita ibaratkan 'spirit' saja, mereka itu santai tidak mengganggu, sedangkan binatang melata kita sebut dengan 'evil spirit', agak susah emang berurusan sama si evil itu, energi/sugestinya sangat kuat, kadang perlu prosesi tersendiri menurut kepercayaan masing untuk meredamnya.

Apa horor selalu exclusive milik rumah bekas pembunuhan/bunuh diri? Bicara soal itu ada satu area bekas Sekolah TK (sekarang udah jadi rumah ini) energi negarifnya luar biasa walau saya nggak masuk kesana cuma lewat doank, ada apa gerangan? Bekas pembunuhan? Saya rasa tidak, itu menurut kesaksian nenek saya yang sudah puluhan tahun tinggal di kawasan itu. Paling katanya sebelum ada TK (yg dibangun sekitar tahun 1970-an) emang udah ada rumah tanpa penghuni (di perkirakan sejak jaman Belanda), pemiliknya ada tapi tinggal di daerah Kota. Pada tahun 1960-an emang ada kasus pembantaian di belakang rumah itu yang merupakan rawa, tapi pembantaian biawak besar bukan manusia. Kenapa saya sebut kasus? Karena hari itu mudah di ingat oleh masyarakat sekitar, daging biawak besar itu di bagi-bagi ke mereka untuk dijadikan obat.

Kisah diatas itu pengalaman saya sendiri lalu saya bertanya pada emak saya yang ibunya (nenek saya) orang asli sana, mereka tau betul perkembangan daerah itu.

Saya menyimpan data beberapa spot angker yang tidak punya sejarah pembunuhan atau bunuh diri sama sekali, data itu berasal dari tahun 60-an, jadi bukan saya yang mengalaminya, hanya kesaksian penduduk lokal. Nanti kapan2 saya share (walau tidak begitu penting karena sebagian dari spot2 itu sekarang tidak angker lagi).

Sekarang kita ke logic saja, lihatlah para dokter, perawat, polisi/penyidik, penjaga kamar mayat, perias mayat, tim SAR atau mereka yang rumahnya dekat kuburan. Kehidupannya biasa aja 'kan?

Darimana saya dapat ide untuk bikin postingan seperti ini?

Drama Jepang - Ie Uru Onna
Dari drama Jepang Ie Uru Onna atau bahasa internasionalnya 'Your House is my Business' yang menceritakan tentang para broker property, terutama karakter utama wanitanya yang gila jual rumah, apapun masalahnya rumah yang dia akan dia jual pokoknya harus terjual, bahkan rumah bekas pembunuhan sekaligus bunuh diri. Dan si wanita itu sendiri bertempat tinggal di rumah mewah bekas pembantaian, belum tau akhirnya seperti apa karena saat ini masih tayang.

Berjuanglah wahai para broker property Indonesia!

Ijou desu.

No comments:

Post a Comment