Saya menerapkan gambar di atas pada hobi saya yaitu debat.
"Cognitively costly" ya itu dia, kenapa gw bilang debat memakan banyak energi (energi otak, bukan mulut atau papan ketik). Klo bisa gw gambarkan itu seperti sebuah 'jaring yg luas dan berlistrik'.
"Objective", ini yg paling langka ditemuin klo lawan gw org lokal, mereka itu hobi sama banget sama 'subjective'. Klo bisa gw gambarkan si 'objective' ini seperti 'timbangan pengadilan'. Objective ini paling penting tapi agak menyakitkan, makanya kadang kita bisa tertipu sendiri. Untuk melatih diri soal ini, para debaters biasa melakukan 'tukar posisi'.
"Causation",
klo di bahasa gw ini seperti lempar lembing, anggap aja 1 terdekat dan
10 terjauh. Cukup menyebalkan ngeliat orang lain teriak2 sampe populer
karna mereka bisa sampe angka 2 atau 3 dimana kita bisa sampe angka 6
atau 7 (tapi tidak populer). Bagaimana dengan 10? Mereka terlalu cerdas
dan biasanya bodo amat dengan segala sesuatu kecuali dunia mereka,
sekalinya tampil mereka biasanya bawa penemuan baru yg menarik.
"Emotions",
ini yg bikin gw dibilang ga punya perasaan. Masalahnya, waktu bisa di
ringkas sedemikian rupa tanpa 'hiasan2 penghakiman' itu. Di saat orang
berkutat di A sampe Z dan ternyata inti masalahnya ada di X maka X-lah
yg harus di fokus sampe tuntas sampe akar2nya.
Lepas dari semua itu kadang2 gw jedotin jidat ke tembok juga (tanpa kata2) karena ternyata level pemikiran lawan lebih minus dari pengharapan. Tapi tentu saja setelah jedotin jidat, gw balik lagi ke posisi normal seperti tidak terjadi apa2 (sambil merombak ulang strategi).
Satu
lagi, jika kita punya lawan yg hobi dengan kata2 penghakiman yg fancy,
kita bisa gunakan waktu luang itu buat me-recharge energi.
Tentu
saja seperti biasa semua bisa di perdebatkan, saya bukan Sherlock,
bahkan Sherlock aja kadang harus pake 'patch' biar bisa mikir jernih.
Secara Umum di Indonesia (sejauh pengetahuan saya)
Secara Umum di Indonesia (sejauh pengetahuan saya)
Kalo di luar negri (terutama negri2 maju) komentar yg di kotak bawah itu dianggap sebagai troll (orang ngerjain cuma buat bikin rame doank), bahkan untuk troll pun udah ga laku lagi.
Andainya kalo yg dibawah itu asli bukan troll, itu artinya kita udah ketinggalan jauh dlm hal skill debat (untuk masyarakat umum, bukan mereka yg emang berprofesi untuk debat). Bukan ketinggalan saja, bahkan ditinggal sama sekali, itu artinya kita tanpa harapan karena ditinggal oleh para pengajar.
[sebenernya gw juga suka ngetroll, trus di ujung kalimat di tambah "3.. 2.. 1..." itu countdown buat ngeliat seberapa cepat mereka marah. Tapi troll itu juga harus tau tempat, nggak mungkin 'kan kita ngetroll di sini]
Saya nggak bilang semua orang Indonesia, karena ketemu beberapa yang luar biasa bagus, mulai dari tata bahasanya sampai strateginya.
Ijou desu.
Bonus;
sesuatu yg menyedihkan, yaitu disaat lawan kita hebat luar biasa tapi
dia meninggalkan kita karena kita membosankan, padahal kita masih ingin
belajar banyak dari dia.
----tergantung anda berada di mana. Ada suatu tempat dimana jika anda terlalu logic anda akan dianggap seperti 'virus berbahaya' yg harus dihindari. Lalu anda akan berlogika bahwa jika anda jangan terlalu logic di tempat itu... kelar idup lo.
Btw, kenapa sih selalu ada gambar lambang YEN (mata uang Jepang)? Soalnya gw ngefan sama Komi-chan, si mata duitan dari Jepang!



No comments:
Post a Comment